internet

Posted in Uncategorized on January 29, 2011 by lukmanul hakim

Membuka Usaha Rental Studio Musik

 

Seiring berkembangnya dunia hiburan khususnya di jalur musik, membuka persewaan studio musik dapat memberikan prospek usaha yang cukup baik. Meskipun kebanyakan orang berfikir dua kali untuk membuka usaha ini, karena butuh modal lumayan besar hanya untuk membeli peralatan musiknya. Namun jangan salah, saat ini bisnis ini banyak dicari oleh calon pelanggan, karena banyak orang yang memiliki keterbatasan tempat dan uang untuk menyalurkan hobi mereka bermain musik. Sehingga, jika Anda memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam bermain musik, sangat cocok ketika Anda berniat membuka usaha ini.

 

Memang diperlukan banyak pertimbangan dan persiapan dalam membuka usaha ini. Persiapan lokasi, persiapan peralatan musik, pengelolaan, hingga persiapan mental Anda harus kuat dalam menjalani persaingan bisnis tersebut. Terlebih kebanyakan studio musik saat ini mulai menggabungkan berbagai usaha lain dalam satu atap pengelolaan bisnis ini, misalnya kursus musik, penyewaan alat-alat musik, dll, sehingga investasi pembelian alat musik dan tempat usaha dapat dimanfaatkan dengan baik.

 

Namun, jika Anda memiliki modal pas-pasan, terlebih dahulu Anda bisa membuka persewaan studio musik saja. Dan kemudian kedepannya Anda bisa menambah dan memperluas usaha dengan menambah ruang sewa studio musik tersebut dengan toko musik, menjual buku-buku musik, kursus musik, hingga kafe pendukung.

 

Beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum memulai bisnis ini antara lain:

 

1. Memiliki minat dan kegemaran dalam dunia musik, hal tersebut perlu dipertimbangkan agar tidak terlalu gaptek dengan perkembangan baru seputar dunia musik yang memang berjalan cepat.

2. Mencari tempat penjualan peralatan musik yang murah dan berkualitas, kemudian utamakan membeli peralatan musik yang standar digunakan seperti gitar, bass, drum, organ atau piano.

3. Bikin studio musik semenarik dan senyaman mungkin dan kedap udara. Karena semakin nyaman konsep dan ruangan studio musiknya, semakin betah pula pelanggan yang menyewa studio Anda

4. Konsep yang matang berkaitan dengan administrasi, biaya operasional, biaya pegawai, dll.

5. Mempersiapkan pengetahuan yang cukup tentang teknis peralatan musik, sehingga akan menghemat biaya perawatan alat.

6. Buatlah media promosi semenarik dan seluas mungkin, misalnya brosur, kemudian disebarkan di lingkungan anak sekolah, kampus, karena kebanyakan pelanggan studio musik seumuran mereka.

 

Dari segi pengelolaan, Anda juga harus pintar-pintar mempertahankan eksistensi usaha Anda agar dapat berkembang dengan baik. Beberapa tips yang perlu diperhatikan antara lain:

 

1. Mempersiapkan konsep dan rencana bisnis yang matang dan sebaik mungkin agar modal yang Anda investasikan tidak sia-sia.

2. Selalu cek dan ricek peralatan music yang disewakan, ketahui juga penggunaannya agar jangan sampai ada pelanggan yang tak bertanggungjawab merusak peralatan musik tersebut.

3. Jika dimungkinkan, Anda bisa memasang kamera pengintai dalam studio, sehingga dapat diketahui dengan jelas tentang penggunaan alat-alat musik tersebut.

4. Aturan yang jelas berkaitan dengan harga sewa, kapasitas orang yang masuk ke dalam studio, aturan penggunaan alat.

5. Memberikan pelayanan/ service yang terbaik kepada pelanggan.

6. Selalu up date perkembangan peralatan yang terbaru agar tidak dicap ketinggalan jaman.

7. Memberikan fasilitas tempat kendaraan pelanggan yang aman. Agar pelanggan tidak merasa was-was ketika sedang menyewa studio musik Anda.

 

Analisa Ekonomi Bisnis Rental Studio Musik

 

Perkiraan Investasi:

 

– Renovasi tempat                               : Rp.  20.000.000,-

– Peralatan dan Sound System                    : Rp.  50.000.000,- +

Total perkiraan investasi                         Rp.  70.000.000,

 

 

Perkiraan Biaya Operasional:

– Biaya listrik                                 : Rp.   1.000.000,-

– Gaji karyawan                                 : Rp.   1.500.000,- +

Total Perkiraan biaya operasional                 Rp.   2.500.000,-

 

 

Asumsi pendapatan/ bulan:

(Dengan rata-rata 5 jam latihan dan 3 jam rekaman per hari)

– ((5 X Rp 30.000,00) + Rp 150.000,00) X 30 = Rp 9.000.000,-

 

 

Laba kotor :

– Rp 9.000.000,- – Rp. 2.500.000,-              = Rp 6.500.000,-

 

Kesimpulan : BEP akan tercapai setelah 11 bulan beroperasi atau kurang dari setahun

 

Diolah dari berbagai sumber

 

 

Bagi Anda yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam bermain musik, rasanya pas banget jika Anda berniat membuka usaha ini. Tidak harus Anda fasih dalam memainkan alat-alat musik sih… Lagipula, bila Anda memiliki lahan / tempat cukup dirumah Anda (misal halaman depan/samping rumah) bisa Anda manfaatkan untuk tempat studio musiknya. Hemat biaya lokasi bukan??

 

Pada umumnya, usaha ini memang tidak berdiri sendiri, namun bergabung dengan usaha lainnya seperti kursus musik, sehingga investasi pembelian alat musik dan tempat usaha dapat dimanfaatkan.

 

TAHAP PERSIAPAN & MODAL

 

* Setidaknya Anda memiliki minat/kegemaran di dunia musik, sehingga Anda tidak terlalu gaptek jika ada perkembangan baru seputar dunia musik.

* Carilah tempat penjualan alat musik yang murah dan berkualitas baik.

* Utamakan membeli peralatan musik yang standar digunakan diantaranya : gitar, bass, drum, organ/piano.

* Siapkan biaya untuk renovasi tempat studio, buat semenarik dan senyaman mungkin dan kedap udara. Karena dengan tempat yang nyaman, pelanggan akan merasa betah sehingga akan memperpanjang waktu sewa mereka.

* Biaya operasional kerja, seperti kebutuhan untuk administrasi, biaya listrik, biaya pemeliharaan alat, gaji pegawai dsb.

* Pengetahuan teknis tentang peralatan musik, dapat menghemat biaya perawatan alat musik Anda. Jika saja pengetahuan Anda pas-pasan, paling tidak Anda memiliki tenaga / tempat servis yang dapat dipercaya untuk mengatasi kerusakan/gangguan pada peralatan.

* Buatlah brosur semenarik mungkin, dan sebarkan di lingkungan anak-anak sekolah (SMP/SMU) dan lingkungan kampus karena kebanyakan pengguna studio musik adalah seusia mereka.

 

 

TIPS MENJALANKAN USAHA

 

Dalam menjalankan sebuah usaha, tentunya Anda harus pintar-pintar dalam mengelola dan mempertahankan eksistensi usaha Anda agar dapat berkembang dengan baik. Berikut tips dari saya mengenai usaha studio musik ini..

 

* Buat rencana bisnis ini dengan matang dan sebaik-baiknya sebelum Anda memulainya. Anda tidak mau modal Anda yang cukup besar ini sia-sia bukan??

* Selalu perhatikan alat-alat musik yang Anda sewakan, ketahui juga penggunaannya. Jangan sampai ada pelanggan yang tak bertanggungjawab merusak peralatan Anda.

* Anda bisa memasang kamera pengintai dalam studio, sehingga tenaga operator Anda dapat selalu mengawasi penggunaannya.

* Buatlah aturan penyewaan studio musik. Baik sewa harga per-jamnya, kapasitas orang yang boleh masuk ke studio, aturan di dalam studio dll.

* Berikan pelayanan yang terbaik pada semua pelanggan.

* Seiring waktu, lengkapi peralatan yang terbaru dan digemari.

* Berikan fasilitas tempat kendaraan pelanggan yang aman. Agar pelanggan benar-benar puas terhadap pelayanan studio musik Anda.

 

 

Teknik marketing untuk studio musik ini bisa anda baca di : (http://www.peluangusaha.web.id/2010/01/teknik-marketing-untuk-studio-musik.html)

BUDIDAYA KELAPA SAWIT

Posted in Uncategorized on May 7, 2010 by lukmanul hakim

LUKMANULHAKIM/EBTA/4A3/5781

SUMBER :http://teknis-budidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-kelapa-sawit.html

BUDIDAYA KELAPA SAWIT


I. PENDAHULUAN
Agribisnis kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.), baik yang berorientasi pasar lokal maupun global akan berhadapan dengan tuntutan kualitas produk dan kelestarian lingkungan selain tentunya kuantitas produksi. PT. Natural Nusantara berusaha berperan dalam peningkatan produksi budidaya kelapa sawit secara Kuantitas, Kualitas dan tetap menjaga Kelestarian lingkungan (Aspek K-3).

II. SYARAT PERTUMBUHAN
2.1. Iklim
Lama penyinaran matahari rata-rata 5-7 jam/hari. Curah hujan tahunan 1.500-4.000 mm. Temperatur optimal 24-280C. Ketinggian tempat yang ideal antara 1-500 m dpl. Kecepatan angin 5-6 km/jam untuk membantu proses penyerbukan.
2.2. Media Tanam
Tanah yang baik mengandung banyak lempung, beraerasi baik dan subur. Berdrainase baik, permukaan air tanah cukup dalam, solum cukup dalam (80 cm), pH tanah 4-6, dan tanah tidak berbatu. Tanah Latosol, Ultisol dan Aluvial, tanah gambut saprik, dataran pantai dan muara sungai dapat dijadikan perkebunan kelapa sawit.

III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
3.1. Pembibitan
3.1.1. Penyemaian
Kecambah dimasukkan polibag 12×23 atau 15×23 cm berisi 1,5-2,0 kg tanah lapisan atas yang telah diayak. Kecambah ditanam sedalam 2 cm. Tanah di polibag harus selalu lembab. Simpan polibag di bedengan dengan diameter 120 cm. Setelah berumur 3-4 bulan dan berdaun 4-5 helai bibit dipindahtanamkan.
Bibit dari dederan dipindahkan ke dalam polibag 40×50 cm setebal 0,11 mm yang berisi 15-30 kg tanah lapisan atas yang diayak. Sebelum bibit ditanam, siram tanah dengan POC NASA 5 ml atau 0,5 tutup per liter air. Polibag diatur dalam posisi segitiga sama sisi dengan jarak 90×90 cm.

3.1.2. Pemeliharaan Pembibitan
Penyiraman dilakukan dua kali sehari. Penyiangan 2-3 kali sebulan atau disesuaikan dengan pertumbuhan gulma. Bibit tidak normal, berpenyakit dan mempunyai kelainan genetis harus dibuang. Seleksi dilakukan pada umur 4 dan 9 bulan.
Pemupukan pada saat pembibitan sebagai berikut :
Pupuk Makro
> 15-15-6-4 Minggu ke 2 & 3 (2 gram); minggu ke 4 & 5 (4gr); minggu ke 6 & 8 (6gr); minggu ke 10 & 12 (8gr)
> 12-12-17-2 Mingu ke 14, 15, 16 & 20 (8 gr); Minggu ke 22, 24, 26 & 28 (12gr), minggu ke 30, 32, 34 & 36 (17gr), minggu ke 38 & 40 (20gr).
> 12-12-17-2 Minggu ke 19 & 21 (4gr); minggu ke 23 & 25 (6gr); minggu ke 27, 29 & 31 (8gr)
> POC NASA Mulai minggu ke 1 – 40 (1-2cc/lt air perbibit disiramkan 1-2 minggu sekali).

Catatan : Akan Lebih baik pembibitan diselingi/ditambah SUPER NASA 1-3 kali dengan dosis 1 botol untuk + 400 bibit. 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 4 liter (4000 ml) air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 1 liter air diberi 10 ml larutan induk tadi untuk penyiraman

3.2. Teknik Penanaman
3.2.1. Penentuan Pola Tanaman
Pola tanam dapat monokultur ataupun tumpangsari. Tanaman penutup tanah (legume cover crop LCC) pada areal tanaman kelapa sawit sangat penting karena dapat memperbaiki sifat-sifat fisika, kimia dan biologi tanah, mencegah erosi, mempertahankan kelembaban tanah dan menekan pertumbuhan tanaman pengganggu (gulma). Penanaman tanaman kacang-kacangan sebaiknya dilaksanakan segera setelah persiapan lahan selesai.

3.2.2. Pembuatan Lubang Tanam
Lubang tanam dibuat beberapa hari sebelum tanam dengan ukuran 50×40 cm sedalam 40 cm. Sisa galian tanah atas (20 cm) dipisahkan dari tanah bawah. Jarak 9x9x9 m. Areal berbukit, dibuat teras melingkari bukit dan lubang berjarak 1,5 m dari sisi lereng.

3.2.3. Cara Penanaman
Penanaman pada awal musim hujan, setelah hujan turun dengan teratur. Sehari sebelum tanam, siram bibit pada polibag. Lepaskan plastik polybag hati-hati dan masukkan bibit ke dalam lubang. Taburkan Natural GLIO yang sudah dikembangbiakkan dalam pupuk kandang selama + 1 minggu di sekitar perakaran tanaman. Segera ditimbun dengan galian tanah atas. Siramkan POC NASA secara merata dengan dosis ± 5-10 ml/ liter air setiap pohon atau semprot (dosis 3-4 tutup/tangki). Hasil akan lebih bagus jika menggunakan SUPER NASA. Adapun cara penggunaan SUPER NASA adalah sebagai berikut: 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 2 liter (2000 ml) air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 1 liter air diberi 10 ml larutan induk tadi untuk penyiraman setiap pohon.

3.3. Pemeliharaan Tanaman
3.3.1. Penyulaman dan Penjarangan
Tanaman mati disulam dengan bibit berumur 10-14 bulan. Populasi 1 hektar + 135-145 pohon agar tidak ada persaingan sinar matahari.

3.3.2. Penyiangan
Tanah di sekitar pohon harus bersih dari gulma.

3.3.3. Pemupukan
Anjuran pemupukan sebagai berikut :

Pupuk Makro

Urea 1. Bulan ke 6, 12, 18, 24, 30 & 36
2. Bulan ke 42, 48, 54, 60 dst
225 kg/ha
1000 kg/ha

TSP 1. Bulan ke 6, 12, 18, 24, 30 & 36
2. Bulan ke 48 & 60
115 kg/ha
750 kg/ha

MOP/KCl 1. Bulan ke 6, 12, 18, 24, 30 & 36
2. Bulan ke 42, 48, 54, 60 dst
200 kg/ha
1200 kg/ha

Kieserite 1. Bulan ke 6, 12, 18, 24, 30 & 36
2. Bulan ke 42, 48, 54, 60 dst
75 kg/ha
600 kg/ha

Borax 1. Bulan ke 6, 12, 18, 24, 30 & 36
2. Bulan ke 42, 48, 54, 60 dst
20 kg/ha
40 kg/ha

NB. : Pemberian pupuk pertama sebaiknya pada awal musim hujan (September – Oktober) dan kedua di akhir musim hujan (Maret- April).

POC NASA
a. Dosis POC NASA mulai awal tanam :
0-36 bln 2-3 tutup/ diencerkan secukupnya dan siramkan sekitar pangkal batang, setiap 4 – 5 bulan sekali
>36 bln 3-4 tutup/ diencerkan secukupnya dan siramkan sekitar pangkal batang, setiap 3 – 4 bulan sekali

b. Dosis POC NASA pada tanaman yang sudah produksi tetapi tidak dari awal memakai POC NASA
Tahap 1 : Aplikasikan 3 – 4 kali berturut-turut dengan interval 1-2 bln. Dosis 3-4 tutup/ pohon
Tahap 2 : Aplikasikan setiap 3-4 bulan sekali. Dosis 3-4 tutup/ pohon
Catatan: Akan Lebih baik pemberian diselingi/ditambah SUPER NASA 1-2 kali/tahun dengan dosis 1 botol untuk + 200 tanaman. Cara lihat Teknik Penanaman (Point 3.2.3.)

3.3.4. Pemangkasan Daun
Terdapat tiga jenis pemangkasan yaitu:
a. Pemangkasan pasir
Membuang daun kering, buah pertama atau buah busuk waktu tanaman berumur 16-20 bulan.
b. Pemangkasan produksi
Memotong daun yang tumbuhnya saling menumpuk (songgo dua) untuk persiapan panen umur 20-28 bulan.
c. Pemangkasan pemeliharaan
Membuang daun-daun songgo dua secara rutin sehingga pada pokok tanaman hanya terdapat sejumlah 28-54 helai.

3.3.5. Kastrasi Bunga
Memotong bunga-bunga jantan dan betina yang tumbuh pada waktu tanaman berumur 12-20 bulan.

3.3.6. Penyerbukan Buatan
Untuk mengoptimalkan jumlah tandan yang berbuah, dibantu penyerbukan buatan oleh manusia atau serangga.
a. Penyerbukan oleh manusia
Dilakukan saat tanaman berumur 2-7 minggu pada bunga betina yang sedang represif (bunga betina siap untuk diserbuki oleh serbuk sari jantan). Ciri bunga represif adalah kepala putik terbuka, warna kepala putik kemerah-merahan dan berlendir.

Cara penyerbukan:
1. Bak seludang bunga.
2. Campurkan serbuk sari dengan talk murni ( 1:2 ). Serbuk sari diambil dari pohon yang baik dan biasanya sudah dipersiapkan di laboratorium, semprotkan serbuk sari pada kepala putik dengan menggunakan baby duster/puffer.
b. Penyerbukan oleh Serangga Penyerbuk Kelapa Sawit
Serangga penyerbuk Elaeidobius camerunicus tertarik pada bau bunga jantan. Serangga dilepas saat bunga betina sedang represif. Keunggulan cara ini adalah tandan buah lebih besar, bentuk buah lebih sempurna, produksi minyak lebih besar 15% dan produksi inti (minyak inti) meningkat sampai 30%.

3.4. Hama dan Penyakit
3.4.1. Hama
a. Hama Tungau
Penyebab: tungau merah (Oligonychus). Bagian diserang adalah daun. Gejala: daun menjadi mengkilap dan berwarna bronz. Pengendalian: Semprot Pestona atau Natural BVR.

b. Ulat Setora
Penyebab: Setora nitens. Bagian yang diserang adalah daun. Gejala: daun dimakan sehingga tersisa lidinya saja. Pengendalian: Penyemprotan dengan Pestona.

3.4.2. Penyakit
a. Root Blast
Penyebab: Rhizoctonia lamellifera dan Phythium Sp. Bagian diserang akar. Gejala: bibit di persemaian mati mendadak, tanaman dewasa layu dan mati, terjadi pembusukan akar. Pengendalian: pembuatan persemaian yang baik, pemberian air irigasi di musim kemarau, penggunaan bibit berumur lebih dari 11 bulan. Pencegahan dengan pengunaan Natural GLIO.

b. Garis Kuning
Penyebab: Fusarium oxysporum. Bagian diserang daun. Gejala: bulatan oval berwarna kuning pucat mengelilingi warna coklat pada daun, daun mengering. Pengendalian: inokulasi penyakit pada bibit dan tanaman muda. Pencegahan dengan pengunaan Natural GLIO semenjak awal.

c. Dry Basal Rot
Penyebab: Ceratocyctis paradoxa. Bagian diserang batang. Gejala: pelepah mudah patah, daun membusuk dan kering; daun muda mati dan kering. Pengendalian: adalah dengan menanam bibit yang telah diinokulasi penyakit.
Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki. Penyemprotan herbisida (untuk gulma) agar lebih efektif dan efisien dapat di campur Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki .

3.5. Panen
3.5.1. Umur Panen
Mulai berbuah setelah 2,5 tahun dan masak 5,5 bulan setelah penyerbukan. Dapat dipanen jika tanaman telah berumur 31 bulan, sedikitnya 60% buah telah matang panen, dari 5 pohon terdapat 1 tandan buah matang panen. Ciri tandan matang panen adalah sedikitnya ada 5 buah yang lepas/jatuh dari tandan yang beratnya kurang dari 10 kg atau sedikitnya ada 10 buah yang lepas dari tandan yang beratnya 10 kg atau lebih.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEPENGARUHI KEBERHASILAN KULTUR JARINGAN

Posted in Uncategorized on May 7, 2010 by lukmanul hakim

LUKMANUL HAKIM/4A3/5781/EBTA

http://bloginvitro.blogspot.com/2009/12/faktor-faktor-yang-mepengaruhi.html

FAKTOR-FAKTOR YANG MEPENGARUHI KEBERHASILAN KULTUR JARINGAN


1) Genotip tanaman
Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis eksplan dalam kultur invitro adalah genotip tanaman asal eksplan diisolasi. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa respon masing-masing eksplan tanaman sangat bervariasi tergantung dari spesies, bahkan varietas, atau tanaman asal eksplan tersebut. Pengaruh genotip ini umumnya berhubungan erat dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan, seperti kebutuhan nutrisi, zat pengatur tumbuh, dan lingkungan kultur. Oleh karena itu, komposisi media, zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh masing-masing varietas tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama.

Perbedaan respon genotip tanaman tersebut dapat diamati pada perbedaan eksplan masing-masing varietas untuk tumbuh dan beregenerasi. Masing-masing varietas tanaman berbeda kemampuannya dalam merangsang pertumbuhan tunas aksilar, baik jumlah tunas maupun kecepatan pertumbuhan tunas aksilarnya. Hal serupa juga terjadi pada pembentukan kalus, laju pertumbuhan kalus serta regenerasi kalus menjadi tanaman lengkap baik melalui pembentukan organ-organ adventif maupun embrio somatik. Regenerasi dan perkembangan organ adventif dan embrio somatik juga sangat ditentukan oleh varietas tanaman induk. Perbedaan pengaruh genetik ini disebabkan karena perbedaan kontrol genetik dari masing-masing varietas serta jenis kelamin tanaman induk.

2) Media kultur
Perbedaan komposisi media, komposisi zat pengatur tumbuh dan jenis media yang digunakan akan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan regenerasi eksplan yang dikulturkan.
a) Komposisi media. Perbedaan komposisi media, seperti jenis dan komposisi garam-garam anorganik, senyawa organik, zat pengatur tumbuh sangat mempengaruhi respon eksplan saat dikulturkan. Perbedaan komposisi media biasanya sangat mempengaruhi arah pertumbuhan dan regenerasi eksplan. Meskipun demikian, media yang telah diformulasikan tidak hanya berlaku untuk satu jenis eksplan dan tanaman saja. Beberapa jenis formulasi media bahkan digunakan secara umum untuk berbagai jenis eksplan dan varietas tanaman, seperti media MS. Namun ada juga beberapa jenis media yang diformulasikan untuk tanaman-tanaman tertentu misalnya WPM, VW dll. Media-media tersebut dapat digunakan untuk berbagai tujuan seperti perkecambahan biji, kultur pucuk, kultur kalus, regenerasi kalus melalui organogenesis dan embriogenesis. Media yang dibutuhkan untuk perkecambahan biji, perangsangan tunas-tunas aksilar umumnya lebih sederhana dibandingkan dengan media untuk regenerasi kalus baik melalui organogenesis maupun embryogenesis.
b) Komposisi hormon pertumbuhan. Komposisi dan konsentrasi hormon pertumbuhan yang ditambahkan dalam media sangat mempengaruhi arah pertumbuhan dan regenerasi eksplan yang dikulturkan. Komposisi dan konsentrasi hormon pertumbuhan yang ditambahkan ke dalam media kultur sangat tergantung dari jenis eksplan yang dikulturkan dan tujuan pengkulturannya. Konsentrasi hormon pertumbuhan optimal yang ditambahkan ke dalam media tergantung pula dari eksplan yang dikulturkan serta kandungan hormon pertumbuhan endogen yang terdapat pada eksplan tersebut. Komposisi yang sesuai ini dapat diperkirakan melalui percobaan-percobaan yang telah dilakukan sebelumnya disertai percobaan untuk mengetahui komposisi hormon pertumbuhan yang sesuai dengan kebutuhan dan arah pertumbuhan eksplan yang diinginkan.

Hormon pertumbuhan yang digunakan untuk perbanyakan secara invitro adalah golongan auksin, sitokinin, giberelin, dan growth retardant. Auksin yang umum dipakai adalah IAA (Indole Acetic Acid), IBA (Indole Butyric Acid), NAA (Naphtalena Acetic Acid), dan 2,4-D (2,4-dichlorophenoxy Acetic Acid). Selain itu beberapa peneliti pada beberapa tanaman menggunakan juga CPA (Chlorophenoxy Acetic Acid). Sitokinin yang banyak dipakai adalah Kinetin (Furfuryl Amino Purine), BAP/BA (Benzyl Amino Purine/Benzyl Adenine), 2 i-P (2-isopentenyl Adenin). Beberapa sitokinin lainnya yang juga digunakan adalah zeatin, thidiazuron dan PBA (6(benzylamino)-9-(2-tetrahydropyranyl)-9H-purine). Hormon pertumbuhan golongan giberellin yang paling umum digunakan adalah GA3, selain itu ada beberapa peneliti yang menggunakan GA4 dan GA7, sedangkan growth retardant yang sering digunakan adalah Ancymidol, Paraclobutrazol dan TIBA, AbA dan CCC.
c) Keadaan fisik media. Media yang umum digunakan dalam kultur jaringan adalah medium padat, medium semi padat dan medium cair. Keadaan fisik media akan mempengaruhi pertumbuhan kultur, kecepatan pertumbuhan dan diferensiasinya. Keadaan fisik media ini mempengaruhi pertumbuhan antara lain karena efeknya terhadap osmolaritas larutan dalam media serta ketersediaan oksigen bagi pertumbuhan eksplan yang dikulturkan.

Media yang umum digunakan dalam mikropropagasi adalah media semi-solid (semi padat) dengan cara menambahkan agar. Media semi padat ini digunakan karena beberapa alasan antara lain: eksplan yang kecil mudah terlihat dalam media padat; selama kultur eksplan tetap berada pada orientasi yang sama; eksplan berada di atas permukaan media sehingga tidak diperlukan teknik aerasi tambahan pada kultur; orientasi pertumbuhan tunas dan akar tetap; dan kalus tidak pecah seperti jika ditempatkan pada media cair. Namun penambahan agar dalam beberapa kasus dapat menghambat pertumbuhan karena: agar mungkin mengandung senyawa penghambat yang dapat menghambat morfogenesis beberapa kultur atau memperlambat pertumbuhan kultur; eksudasi fenolik dari eksplan terserap oleh media yang menempel dengan eksplan sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan eksplan; agar harus dicuci bersih dari akar sebelum diaklimatisasi; dan perlu waktu yang lebih banyak untuk mencuci gelas kultur misalnya botol-botol harus diautoclave untuk melarutkan agar sebelum dicuci.

3) Lingkungan Tumbuh

a) Suhu. Tanaman umumnya tumbuh pada lingkungan dengan suhu yang tidak sama setiap saat, misalnya pada siang dan malam hari tanaman mengalami kondisi dengan perbedaan suhu yang cukup besar. Keadaan demikian bisa dilakukan dalam kultur invitro dengan mengatur suhu siang dan malam di ruang kultur, namun laboratorium kultur jaringan selama ini mengatur suhu ruang kultur yang konstan baik pada siang maupun malam hari. Umumnya temperatur yang digunakan dalam kultur invitro lebih tinggi dari kondisi suhu invivo. Tujuannya adalah untuk mempercepat pertumbuhan dan morfogenesis eksplan.

Pada sebagian besar laboratorium, suhu yang digunakan adalah konstan, yaitu 25°C (kisaran suhu 17-32°C). Tanaman tropis umumnya dikulturkan pada suhu yang sedikit lebih tinggi dari tanaman empat musim, yaitu 27°C (kisaran suhu 24-32°C). Bila suhu siang dan malam diatur berbeda, maka perbedaan umumnya adalah 4-8°C, variasi yang biasa dilakukan adalah 25°C siang dan 20°C malam, atau 28°C siang dan 24°C malam. Meskipun hampir semua tanaman dapat tumbuh pada kisaran suhu tersebut, namun kebutuhan suhu untuk masing-masing jenis tanaman umumnya berbeda-beda. Tanaman dapat tumbuh dengan baik pada suhu optimumnya. Pada suhu ruang kultur dibawah optimum, pertumbuhan eksplan lebih lambat, namun pada suhu diatas optimum pertumbuhan tanaman juga terhambat akibat tingginya laju respirasi eksplan.

b) Kelembaban relatif. Kelembaban relatif dalam botol kultur dengan mulut botol yang ditutup umumnya cukup tinggi, yaitu berkisar antara 80-99%. Jika mulut botol ditutup agak longgar maka kelembaban relatif dalam botol kultur dapat lebih rendah dari 80%. Sedangkan kelembaban relatif di ruang kultur umumnya adalah sekitar 70%. Jika kelembaban relatif ruang kultur berada dibawah 70% maka akan mengakibatkan media dalam botol kultur (yang tidak tertutup rapat) akan cepat menguap dan kering sehingga eksplan dan plantlet yang dikulturkan akan cepat kehabisan media. Namun kelembaban udara dalam botol kultur yang terlalu tinggi menyebabkan tanaman tumbuh abnormal yaitu daun lemah, mudah patah, tanaman kecil-kecil namun terlampau sukulen. Kondisi tanaman demikian disebut vitrifikasi atau hiperhidrocity. Sub-kultur ke media lain atau menempatkan planlet kecil ini dalam botol dengan tutup yang agak longgar, tutup dengan filter, atau menempatkan silica gel dalam botol kultur dapat membantu mengatasi masalah ini.
c) Cahaya. Seperti halnya pertumbuhan tanaman dalam kondisi invivo, kuantitas dan kualitas cahaya, yaitu intensitas, lama penyinaran dan panjang gelombang cahaya mempengaruhi pertumbuhan eksplan dalam kultur invitro. Pertumbuhan organ atau jaringan tanaman dalam kultur invitro umumnya tidak dihambat oleh cahaya, namun pertumbuhan kalus umumnya dihambat oleh cahaya.

Pada perbanyakan tanaman secara invitro, kultur umumnya diinkubasikan pada ruang penyimpanan dengan penyinaran. Tunas-tunas umumnya dirangsang pertumbuhannya dengan penyinaran, kecuali pada teknik perbanyakan yang diawali dengan pertumbuhan kalus. Sumber cahaya pada ruang kultur ini umumnya adalah lampu flourescent (TL). Hal ini disebabkan karena lampu TL menghasilkan cahaya warna putih, selain itu sinar lampu TL tidak meningkatkan suhu ruang kultur secara drastis (hanya meningkat sedikit). Intensitas cahaya yang digunakan pada ruang kultur umumnya jauh lebih rendah (1/10) dari intensitas cahaya yang dibutuhkan tanaman dalam keadaan normal. Intensitas cahaya dalam ruang kultur untuk pertumbuhan tunas umumnya berkisar antara 600-1000 lux. Perkecambahan dan inisiasi akar umumnya dilakukan pada intensitas cahaya lebih rendah.

Selain intensitas cahaya, lama penyinaran atau photoperiodisitas juga mempengaruhi pertumbuhan eksplan yang dikulturkan. Lama penyinaran umumnya diatur sesuai dengan kebutuhan tanaman sesuai dengan kondisi alamiahnya. Periode terang dan gelap umumnya diatur pada kisaran 8-16 jam terang dan 16-8 jam gelap tergantung varietas tanaman dan eksplan yang dikulturkan. Periode siang/malam (terang/gelap) ini diatur secara otomatis menggunakan timer yang ditempatkan pada saklar lampu pada ruang kultur. Dengan teknik ini penyinaran dapat diatur konstan sesuai kebutuhan tanaman.

4) Kondisi Eksplan
Pertumbuhan dan morfogenesis dalam mikropropagasi sangat dipengaruhi oleh keadaan jaringan tanaman yang digunakan sebagai eksplan. Selain faktor genetis eksplan yang telah disebutkan di atas, kondisi eksplan yang mempengaruhi keberhasilan teknik mikropropagasi adalah jenis eksplan, ukuran, umur dan fase fisiologis jaringan yang digunakan sebagai eksplan.

Meskipun masing-masing sel tanaman memiliki kemampuan totipotensi, namun masing-masing jaringan memiliki kemampuan yang berbeda-beda untuk tumbuh dan beregenerasi dalam kultur jaringan. Oleh karena itu, jenis eksplan yang digunakan untuk masing-masing kultur berbeda-beda tergantung tujuan pengkulturannya.

Umur eksplan sangat berpengaruh terhadap kemampuan eksplan tersebut untuk tumbuh dan beregenerasi. Umumnya eksplan yang berasal dari jaringan tanaman yang masih muda (juvenil) lebih mudah tumbuh dan beregenerasi dibandingkan dengan jaringan yang telah terdiferensiasi lanjut. Jaringan muda umumnya memiliki sel-sel yang aktif membelah dengan dinding sel yang belum kompleks sehingga lebih mudah dimodifikasi dalam kultur dibandingkan jaringan tua. Oleh karena itu, inisiasi kultur biasanya dilakukan dengan menggunakan pucuk-pucuk muda, kuncup-kuncup muda, hipokotil, inflorescence yang belum dewasa, dll. Jika eksplan diambil dari tanaman dewasa, rejuvenilisasi tanaman induk melalui pemangkasan atau pemupukan dapat membantu untuk memperoleh eksplan muda agar kultur lebih berhasil.

Ukuran eksplan juga mempengaruhi keberhasilan kultur. Eksplan dengan ukuran kecil lebih mudah disterilisasi dan tidak membutuhkan ruang serta media yang banyak, namun kemampuannya untuk beregenerasi juga lebih kecil sehingga dibutuhkan media yang lebih kompleks untuk pertumbuhan dan regenerasinya. Sebaliknya semakin besar eksplan, maka semakin besar kemungkinannya untuk membawa penyakit dan makin sulit untuk disterilkan, membutuhkan ruang dan media kultur yang lebih banyak. Ukuran eskplan yang sesuai sangat tergantung dari jenis tanaman yang dikulturkan, teknik dan tujuan pengkulturannya.

BY:LUKMANUL HAKIM

jati belanda(guazuma ulmifolia lamk)

Posted in Uncategorized on January 18, 2010 by lukmanul hakim


Nama spesies : Guazuma ulmifolia Lamk. var. Tomentosa Schum.
Nama daerah :
Sumatra : Jati blanda (Melayu)
Jawa : Jati londa, jatos landi (Jawa)
Inggris : Bastard cedar, jacocalalu, West Indian elm
Prancis : bois d’orme
Spanyol : bolaina negra, cabeza de negro, caulote, guácima, guácimo, guácimo, guásima

Sinonim : Guazuyna tomentosa Kunth. Bubroma guazuma, Diuroglossum rufescens, Theobroma guazuma, Guazuma coriacea, G. inuira, G. polybotra, G. utilis

Asal wilayah :  Hindia Barat (kecuali Bahamas) dari Cuba sampai Trinidad dan Tobago serta dikembangbiakkan di Hindia Belanda Barat. Serta dari Mexico hingga Ecuador, Peru, Argentina Utara, Paraguay, dan Brazil.

Kingdom : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Klasis : Magnoliopsida
Ordo : Malvales
Familia : Stercuiliaceae
Genus : Guazuma
Spesies : Guazuma ulmifolia

Komposisi kandungan kimia :
Tanin, lendir, dammar, alkaloid (kafein, β-sitosterol, friedelin 3a-asetat, friedelin 3 β-ol, terpen), caryophyllene, catechins, farnesol, friedelin, kaurenoic acid, precocene I, procyanidin B-2, procyanidin B-5, procyanidin C-1, dan sitosterol.

Khasiat :
Daun Guazuma ulmitolia berkhasiat sebagai obat pelangsing tubuh,
Bijinya sebagai obat mencret.
Sebagai obat pelangsing tubuh dipakai ± 20 gram serbuk daun Guazuma
ulmifolia, diseduh dengan I gelas air matang panas, setelah dingin disaring,
Hasil saringan diminum sehari dua kali sama banyak pagi dan sore.
Buah atau daun : membantu pengobatan diare, batuk, dan nyeri perut
Kulit batang : membantu pengobatan diaforetik, bengkak kaki
Penelitian uji klinis digunakan untuk menurunkan hiperlipidemia

Habitus : Tumbuhan berupa semak atau pohon, tinggi 10 m sampai 20 m, percabangan ramping

MORFOLOGI
Akar (Radix)
Tunggang, putih kecoklatan.

Batang (Caulis)
Keras, bulat, permukaan kasar, banyak alur, berkayu, bercabang, berwarna hijau keputih-putihan.

Daun (Folium)
Tungal berbentuk bulat telur sampai lanset, panjang helai daun 4 cm sampai 22,5 cm, lebar 2 cm sampai 10 cm, pangkal daun menyerong berbentuk jantung yang kadang-kadang tidak setangkup, bagian ujung meruncing dan tajam, permukan daun bagian atas berambut jarang, permukaan bagian bawah berambut rapat, permukan kasar; panjang tangkai daun 5 mm sampai 25 mm, mempunyai daun penumpu berbentuk lanset atau berbentuk paku, panjang 3 mm sampai 6 mm, tepi atau pinggir daun bergerigi, ujung runcing, pangkal berlekuk, pertulangan menyirip, berseling, serta berwarna hijau kecoklatan sampai coklat muda. Daun majemuknya berseling dan berbentuk menjari. Daun memiliki stipula (daun penumpu) namun biasanya gugur awal.

Bunga (Flos)
Perbungaan berupa mayang terletak di ketiak daun, panjang 2 cm sampai 4 cm, berbunga banyak, bentuk bunga bulat agak ramping dan berbau wangi; panjang gagang bunga lebih kurang 5 mm; kelopak bunga lebih kurang 3 mm; mahkota bunga berwarna kuning, panjang 3 mm sampai 4 mm; tajuk terbagi dalam 2 bagian, berwarna ungu tua kadang-kadang kuning tua, panjang 3 mm sampai 4 mm, bagian bawah berbentuk garis, panjang 2 mm sampi 2,5 mm; tabung benang sari berbentuk mangkuk, tangkai 1-1,5 cm,
hijau muda.

Buah (Fructus)
Berbentuk kotak, bulat, keras, permukaan berduri bakal buah berambut, panjang buah 2 cm sampai 3,5 cm. Buah yang belum masak berwarna hijau dan yang telah masak berwarna hitam. Banyak dihasilkan ketika musim penghujan.

Biji (Semen)
Kecil, keras, diameter ± 2 mm, berwarna coklat muda.

ANATOMI
Akar (Radix)
Tersusun oleh empat lapisan jaringan pokok yaitu epidermis, korteks, endodermis, dan silinder pusat (stele).
Batas antara ujung akar dengan kaliptra tidak jelas, perisikel terdiri dari satu lapis sel berdinding tebal, letak berkas pengangkut pada akar sekunder bersifat kolateral (xylem di dalam dan floem di luar), mempunyai empulur sempit atau tidak mempunyai empulur pada pusat akar, perisikel membentuk cabang akar dan meristem sekunder seperti kambium dan kambium gabus, kambium tampak sebagai meristem sekunder, jumlah lengan protoxilem antara 2 (diark) sampai 6 (heksark), jarang lebih.

Batang (Caulis)
Struktur primer batangnya dibangun oleh jaringan-jaringan primer sebagai berikut : epidermis, korteks, dan stele (silinder pusat). Stele tersebut disusun oleh xylem primer, floem primer, kambium vaskular, dan empulur.
Struktur sekunder batangnya terdiri atas floem sekunder, xylem sekunder, gabus, dan cambium gabus.
Batang bercabang-cabang, pembuluh angkut tersusun dalam susunan lingkaran atau berseling radial, mempunyai cambium vascular, sehingga dapat tumbuh membesar, tidak mempunyai meristem interlakar, jari-jari empulur deretan parenkima di antara berkas pengangkut, dan dapat dibedakn antara daerah korteks dan empulur.
Terdapat lubang sekretori (schizogenous dan lysigenous) dan getah. Namun pada beberapa tanaman juga tidak diketemukan lubang sekretori. Terdapat cambium gabus yang paa permulannya hanya dangkal saja. Nodus tri-lakunar. Jaringan pengangkutan utama berbentuk silinder, tanpa berkas terpisah. Tidak terdapat berkas kortikal. Sebagian besar tidak terdapat berkas medular atau dapat pula terdapat berkas medularnya (Leptonychia). Tidak terdapat floem internal. Perkembangan sekunder berasal dari cincin cambial. Floem sekunder terbagi atas zona keras (fibrous) dan lunak (parenchymatous). Pada xylem tidak terdapat trakeid fibre, dengan fibre libriform; dengan berkas pengangkutnya. Parenkim bertipe apotracheal atau paratracheal.

Daun (Folium)
Epidermis atas terdiri dari 1 lapis sel, berambut penutup dan berambut kelenjar. Sel epidermis besar, pada penampang tangensial tampak berbentuk poligonal; kutikula agak tebal, tidak berstomata. Epidermis bawah terdiri dari 1 lapis sel, berstomata, berambut penutup dan berambut kelenjar. Sel epidermis bawah lebih kecil daripada epidermis atas, pada penampang tangensial tampak dinding samping bergelombang. Stomata tidak anisositik, bentuk jorong, panjang 20mm sampai 40mm. Rambut penutup bentuk menyerupai bintang, terdiri dari beberapa rambut bersel tunggal yang berimpit pada bagian pangkalnya, dinding tebal tidak berwarna, panjang berbeda-beda, ruang rambut berwarna coklat. Rambut kelenjar terdiri dari 2 sampai 3 sel tangkai dan 3 sel kepala, 1 sel kepala lebih besar dari 2 sel lainnya. Mesofil terdiri dari jaringan palisade dan jaringan bunga karang. Di dalam mesofil terdapat hablur kalsium oksalat berbentuk prisma. Jaringan palisade tersusun rapat terdiri dari 2 sampai 4 lapis sel. Berkas pembuluh tipe kolateral, disertai serabut sklerenkim dan serabut hablur yang berisi hablur kalsium oksalat berbentuk prisma. Hablur kalsium oksalat terdapat lebih banyak pada tulang daun daripada di mesofil. Pada parenkim tulang daun terdapat sel lendir atau saluran lendir.

Bunga (Flos)
Bunga berbentuk aktinomof atau terdapat pula zygomorf (jarang) serta bersifat biseksual atau jarang sekali yang bersifat uniseksual. Androecium (alat kelamin jantan) sering kali terdiri atas dua ulir dengan masing-masing ulir terdiri atas 5 stamen (benang sari) yang mana filamennya menyatu membentuk sebuah tabung yang umumnya mengelilingi ovarium atau tumbuh daru sebuah androgynophore. Gynoecium (alat kelamin betina) tersusun atas sekumpulan putik tunggal yang terdiri atas 4-5 bagian yang berasosiasi dengan carpella (daun buah)

Buah (Fructus)
Buah terdiri dari tiga lapisan yaitu : epikarpium (kulit luar), mesokarpium (bagian tebal dan lunak), dan endokarpium (yang melapisi biji). Carpela buah berbentuk apocarpous atau syncarpous; sebuah folikel atau samaroid. Kapsula biasanya septicidal atau loculicidal. Biji endosperma pada umumnya namun terdapat pula non endosperma. Endosperma dapat berminyak atau pun tidak berminyak.

Biji (Semen)
Biji terdiri atas kulit biji, endosperm, dan embrio. Germinasi phanerocotylar atau cryptocotylar. Biji mengandung zat tepung, memiliki dua kotiledon berbentuk datar, terlipat, atau menggulung. Embrio chlorophyllous (4/5); lurus atau bergelombang.

FISIOLOGI
Fisiologi secara biokimia sebagai berikut : dapat bersifat cyanogenic maupun non-cyanogenic. Mengandung alkaloid. Tidak terdeteksi apabila mengandung iridoids. Umumnya terdapat proanthocyanidins berupa cyaniding. Mengandung flavonols yaitu kaempferol, atau quercetin, atau kaempferol dan quercetin. Terdapat asam ellagic. Mengalami transportasi glukosa dalam bentuk sukrosa.
Tanaman ini termasuk dalam tumbuhan C3 dalam sistem fotosintesisnya. Sintesis C3 diawali dengan fikasasi CO2, yaitu menggabungkan CO2 dengan sebuah molekul akseptor karbon. Akan tetapi, di dalam sintesis C3, CO2 difiksasi ke dalam gula berkarbon lima, yaitu ribulosa bifosfat (RuBP) oleh enzim karboksilase RUBP (rubisko). Molekul berkarbon enam yang terbentuk tidak stabil dan segera terpisah menjadi dua molekul fosfogliserat (PGA). Molekul PGA merupakan karbohidrat stabil berkarbon tiga yang pertama kali terbentuk sehingga cara tersebut dinamakan sintesis C3 (RuBP + CO2 à 2 PGA).
Molekul PGA bukan molekul berenergi tinggi. Dua molekul PGA mengandung energi yang lebih kecil dibandingkan dengan satu molekul RuBP. Hal tersebut menjelaskan alas an fiksasi CO2 berlangsung secara spontan dan tidak mmerlukan energi dari reaksi cahaya. Untuk mensintesis molekul berenergi tinggi, energi dan electron dari ATP maupun NADPH hasil reaksi terang digunakan untuk mereduksi tiap PGA menjadi fosfogliseraldehida (PGAL). Dua molekul PGAL dapat membentuk satu glukosa.
Siklus Calvin telah lengkap bila pembentukan glukosa disertai dengan regenerasi RuBP. Satu molekul CO2 yang tercampur menjadi enam molekul CO2. Ketika enam molekul CO2 bergabung dengan enam molekul RuBP dihasilkan satu glukosa dan enam RuBP sehingga siklus dapat dimulai lagi.

Anonim, 1978, Materia Medika Indonesia, Jilid II, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta
Tjitrosoepomo, G., 2005, Morfologi Tumbuhan, Gadjah Mada University Press, Jogjakarta
http://delta-intkey.com/angio/www/sterculi.htm
http://striweb.si.edu/ctfs/webatlas/maps/guazul.wmf
http://www.asiamaya.com/jamu/isi/jatibelanda_sterculiaceae.htm
http://www.botany.hawaii.edu/faculty/carr/sterculi.htm
http://www.hear.org/Pier/species/guazuma_ulmifolia.htm
http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php?id=294

http://www.google.co.id/search?q=guazuma+ulmifolia+lamk&ie=utf-8&oe=utf-8&aq=t&rls=org.mozilla:en-US:official&client=firefox-a

mangkokan (Nothopanax scutellarium)

Posted in Uncategorized on January 18, 2010 by lukmanul hakim

lukmanul hakim
Mangkokan
(Nothopanax scutellarium Merr.)

Sinonim :
= N. cochleatum, (Lamk.), Miq. = Polyscias scutellaria, (Burm.f.), Fosb. = Panax cochleatum, DC.

Familia :
Araliaceac

Uraian :
Tumbuhan ini sering ditanam sebagai tanaman hias atau tanaman pagar, walaupun dapat ditemukan tumbuh liar di ladang dan tepi sungai. Mangkokan di sini jarang atau tidak pernah berbunga, menyukai tempat terbuka yang terkena sinar matahari atau sedikit terlindung, dan dapat tumbuh pada ketinggian 1 – 200 m dp1. Perdu tahunan, tumbuh tegak, tinggi 1- 3 m. Batang berkayu, bercabang, bentuknya bulat, panjang, dan lurus. Daun tunggal, bertangkai, agak tebal, bentuknya bulat berlekuk seperti mangkok, pangkal berbentuk jantung, tepi bergerigi, diameter 6-12 cm, pertulangan menyirip, warnanya hijau tua. Bunga majemuk, bentuk payung, warnanya hijau. Buahnya buah buni, pipih, hijau. Biji kecil, keras, dan berwama cokelat. Zaman dahulu, dalam keadaan darurat daunnya digunakan sebagai piring atau mangkok untuk makan bubur sagu sehingga dinamakan daun mangkok. Daun muda dapat dimakan sebagai lalap, urapan mentah, atau direbus dan dibuat sayur. Daunnya juga dapat dimanfaatkan untuk makanan ternak. Perbanyakan dengan setek batang.

Nama Lokal :
Mamanukan (Sunda), godong mangkokan (Jawa). lanido,; ndalido, ranido, ndari (Roti).ai lohoi, ai laun niwel, daun koin, ; daun papeda (Ambon). daun koin, d. mangkok, memangkokan, ; daun papeda, memangkokan, pohon mangkok (Sumatera); Daun mangkok (Menado), mangko-mangko (Makasar).; Goma matari, sawoko (Halmahera), rau paroro (Ternate).; Platitos (Tagalog), saucer leaf, shell leaf (Inggris).;
Penyakit Yang Dapat Diobati :
Radang payudara, rambut rontok, sukar kencing, bau badan, luka; Pembengkakan dan melancarkan pengeluaran ASI.;
BAGIAN YANG DIGUNAKAN : Akar dan daun.

INDIKASI :
Akar dan daun mangkokan berkhasiat untuk mengatasi:
– radang payudara,
– pembengkakan dan melancarkan pengeluaran ASI,
– rambut rontok,
– sukar kencing,
– bau badan, dan
– luka.

CARA PEMAKAIAN :
Ambil daun secukupnya lalu direbus dan diminum. Untuk pemakaian luar, daun tua digiling halus, dan dipakai secara setempat.

CONTOH PEMAKAIAN :
1. Radang payudara, pembengkakan disertai bendungan ASI :
Daun mangkokan tua secukupnya diremas dengan minyak kelapa
dan sedikit kunyit yang telah diparut. Panaskan di atas api, hangat-
hangat ditaruh pada payudara yang membengkak.

2. Luka :
Daun mangkokan segar secukupnya dicuci bersih lalu digiling halus.
Taruh di atas luka, lalu dibalut. Ganti 2 – 3 kali sehari.

3. Sukar-kencing :
Daun mangkokan tua yang masih segar direndam dalarn air panas
beberapa saat. Angkat, lalu hangat-hangat dikompreskan pada
perut bagian bawah.

4. Rambut rontok :
Daun mangkokan tua yang masih segar secukupnya setelah dicuci
bersih lalu digiling halus. Tambahkan sedikit minyak kelapa sambil
diaduk sampai seperti bubur. Kernudian saring dan peras. Hasil
perasan dioleskan pada kulit kepala sambil dipijat ringan. Biarkan
sampai mengering, lalu rambut dicuci sampai bersih. Lakukan setiap
hari.
Komposisi :
KANDUNGAN KIMIA : Batang dan daun mengandung kalsium-oksalat, peroksidase, amygdalin, fosfor, besi, lemak, protein, serta vitamin A, B1, dan C.
http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/gambar/mangkokan.jpg&imgrefurl=http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php%3Fmnu%3D2%26id%3D120&usg=__Wvs-fw3AlvWW6rf5O-nzKe5RPww=&h=251&w=304&sz=24&hl=id&start=2&um=1&tbnid=umz8DCb3yhyriM:&tbnh=96&tbnw=116&prev=/images%3Fq%3Dnothopanax%2Bscutellarium%26hl%3Did%26client%3Dfirefox-a%26rls%3Dorg.mozilla:en-US:official%26sa%3DX%26um%3D1
diposting ulang oleh lukmanul hakim

Rumput Mutiara (Hedyotis corymbosa)

Posted in Uncategorized on January 18, 2010 by lukmanul hakim


a.Morfologi tumbuhan
Rumput tumbuh rindang berserak, agak lemah, tinggi 15 – 50 cm, tumbuh subur pada tanah lembab di sisi jalan, pinggir selokan, mempunyai banyak percabangan. Batang bersegi, daun berhadapan bersilang, tangkal daun pendek/hampir duduk, panjang daun 2 – 5 cm, ujung runcing, tulang daun satu di tengah. Ujung daun mempunyal rambut yang pendek. Bunga ke luar dari ketiak daun, bentuknya seperti payung berwarna putih, berupa bunga majemuk 2-5, tangkai bunga (induk) keras seperti kawat, panjangnya 5 10 mm. Buah built, ujungnya pecah-pecah. Rumput ini mempunyai khasiat sama seperti Hedyotis diffusa Willd. = Rumput Iidah ular = Baihua she she cao.

b.Klasifikasi tumbuhan
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Rubiales
Famili : Rubiaceae
Genus : Hedyotis
Spesies : Hedyotis corymbosa L

c.Kandungan kimia
Hentriacontane, stigmasterol, ursolic acid, oleanolic acid, Beta-sitosterol, sitisterol-D-glucoside, p-coumaric acid, flavonoid glycosides, dan baihuasheshecaosu (kemungkinan analog coumarin). Kandungan flavonoid glycosides pada Hedyotis corymbosa (L.] Lamk. diduga mampu menghambat proses karsinogenesis baik secara in vitro maupun in vivo. Penghambatan terjadi pada tahap inisiasi, promosi maupun progresi melalui mekanisme molekuler antara lain inaktivasi senyawa karsinogen, antiproliferatif, penghambatan angiogenesis, cell cycle arrest, induksi apoptosis dan antioksidan (Ren et al., 2003). Sebagian besar senyawa karsinogean seperti Polisiklik Aromatik Hidrokarbon (PAH) memerlukan aktivasi oleh enzim sitokrom P450 membentuk intermediet yang reaktif sebelum berikatan dengan DNA. Ikatan kovalen antara DNA dengan senyawa karsinogen aktif menyebabkan kerusakan DNA. Flavonoid dalam proses ini berperan sebagai blocking agent (Watternberg, 1985). Pengeblokan aksi karsinogen dapat melalui beberapa mekanisme antara lain melalui menginhibisi aktivitas isoenzim sitokrom P450 yaitu CYP1A1 dan CYP1A2 sehingga senyawa karsinogen tidak reaktif. Mekanisme yang lain melalui detoksifikasi karsinogen. Flavonoid juga meningkatkan ekspresi enzim Gluthation S-Transferase (GST) yang dapat mendetoksifikasi karsinogen aktif sehingga menjadi lebih polar dan dieliminasi dari tubuh. Mekanisme yang lain melalui pengikatan karsinogen aktif oleh flavonoid sehingga dapat mencegah ikatan dengan DNA, RNA atau protein target (Ren et al., 2003).

Sifat antioksidan dari senyawa flavonoid juga dapat menginhibisi proses karsinogenesis. Fase inisiasi kanker seringkali diawali melalui oksidasi DNA yang menyebabkan mutasi (Kakizoe, 2003) oleh senyawa karsinogen. Karsinogen aktif seperti radikal oksigen, peroksida dan superoksida, dapat distabilkan oleh flavonoid melalui reaksi hidrogenasi maupun pembentukan kompleks (Ren et al., 2003).

d.Kegunaan dan khasiat

Rasa manis, sedikit pahit, lembut, netral, agak dingin. Menghilangkan panas, anti-radang, diuretik, menghilangkan panas dan toxin, mengaktifkan circulasi darah, Tonsilis, Bronkhitis, Gondongan, Pneumonia, Radang usus buntu; Hepatitis, Radang panggul, Infeksi saluran kemih, Bisul, Borok;

Kanker: Lymphosarcoma, Ca lambung, Ca cervix, kanker payudara, rectum, fibrosarcoma, dan Ca nasophar.

gambar : Struktur Asam Ursolat dan Asam Oleanolat

Daftar pustaka

Kakizoe and tadao, 2003. ‘Chemoprevention of cancer Focusing on Clinical Trials’, Jpn J. Clin. Oncol. 33(9). 421-442.

Kontributor : Rifki Febriansah, Aditya Asyhar, Muhammad Iqbal, Adam H dan Endang Sulistyorini S.P

http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://ccrcfarmasiugm.files.wordpress.com/2008/06/gambar-rumput-mutiara1.jpg&imgrefurl=http://ccrcfarmasiugm.wordpress.com/ensiklopedia-tanaman-anti-kanker/r/rumput-mutiara/&usg=__AlqMTiP7xD734na2Z86F1-ysvFw=&h=328&w=430&sz=25&hl=id&start=1&um=1&tbnid=Dd6TIZM3I4gvQM:&tbnh=96&tbnw=126&prev=/images%3Fq%3Dhedyotis%2Bcorymbosa%26hl%3Did%26client%3Dfirefox-a%26rls%3Dorg.mozilla:en-US:official%26hs%3DVfB%26sa%3DX%26um%3D1

oleh : lukmanul hakim

Pegagan

Posted in Uncategorized on January 15, 2010 by lukmanul hakim

Pegagan Jenis Pegagan

Pegagan merupakan tanaman herba tahunan yang tumbuh menjalar dan berbunga sepanjang tahun. Tanaman akan tumbuh subur bila tanah dan lingkungannya sesuai hingga dijadikan pennutup tanah. Jenis pegagan yang banyak dijumpai adalah pegagan merah dan pegagan hijau. Pegagan merah dikenal juga dengan antanan kebun atau antanan batu karena banyak ditemukan di daerah bebatuan, kering dan terbuka. Pegagan merah tumbuh merambat dengan stolon (geragih) dan tidak mempunyai batang, tetapi mempunyai rhizoma (rimpang pendek). Sedangkan pegagan hijau sering banyak dijumpau di daerah pesawahan dan disela-sela rumput. Tempat yang disukai oleh pegagan hijau yaitu tempat agak lembab dan terbuka atau agak ternaungi. Selain itu, tanaman yang mirip pegagan atau antanan ada empat jenis yaitu antanan kembang, antanan beurit, antanan gunung dan antanan air.
[sunting] Kandungan

Pegagan yang simplisianya dikenal dengan sebutan Centella Herba memiliki kandungan asiaticoside, thankuniside, isothankuniside, madecassoside, brahmoside, brahmic acid, brahminoside, madasiatic acid, meso-inositol, centelloside, carotenoids, hydrocotylin, vellarine, tanin serta garam mineral seperti kalium, natrium, magnesium, kalsium dan besi. Diduga glikosida triterpenoida yang disebut asiaticoside merupakan antilepra dan penyembuh luka yang sangat luar biasa. Zat vellarine yang ada memberikan rasa pahit.
[sunting] Sifat dan Manfaat

Pegagan berasa manis, bersifat mendinginkan, memiliki fungsi membersihkan darah, melancarkan peredaran darah, peluruh kencing (diuretika), penurun panas (antipiretika), menghentikan pendarahan (haemostatika), meningkatkan syaraf memori, anti bakteri, tonik, antispasma, antiinflamasi, hipotensif, insektisida, antialergi dan stimulan. Saponin yang ada menghambat produksi jaringan bekas luka yang berlebihan (menghambat terjadinya keloid)

Manfaat pegagan lainnya yaitu meningkatkan sirkulasi darah pada lengan dan kaki; mencegah varises dan salah urat; meningkatkan daya ingat, mental dan stamina tubuh; serta menurunkan gejala stres dan depresi. pegagan pada penelitian di rsu dr.soetomo surabaya dapat dipakai untuk menurunkan tekanan darah,Penurunan tidak drastis, jadi cocok untuk penderita usia lanjut.
[sunting] Pengolahan

Kebanyakan pegagan dikonsumsi segar untuk lalapan, tetapi ada yang dikeringkan untuk dijadikan teh, diambil ekstraknya untuk dibuat kapsul atau diolah menjadi krem, salep, obat jerawat, maupun body lotion.
[sunting] Pranala luar