BROTOWALI (Tinospora crispa Miers. Hool. f. & Thems)

BROTOWALI (Tinospora crispa Miers. Hool. f. & Thems)


Latin : Tinospora crispa / T. Tuberculata / T. Rumphii / Cocculus crispum / Menispermum crispum / M.tuberculatum / M. verrucosum
Indonesia : Andawali / Putrawali / Daun gadel
English :

Familia : Menispermaceae

WiIayah :
Tumbuhan ini berasal dari Asia Tenggara, misalnya di Indo Cina, Semenanjung MeIayu, Filipina dan Indonesia (Jawa, BaIi, Ambon).

Uraian tanaman :
Brotowali termasuk tumbuhan merambat yang memiliki batang berwarna hijau dengan penuh benjolan, dan mengandung banyak air. Daunnya yang berwarna hijau muda berbentuk jantung memiliki lebar antara 6 hingga 12 cm. Bunganya berwarna hijau muda memiliki mahkota 6 yang merupakan tunas.Warnanya kemudian berubah menjadi merah dan putih. Buahnya berwarna merah muda.

Kandungan & Manfaat :
Kulit-batangnya mengandung zat-zat seperti alkaloida dan damar lunak berwarna kuning sedang akarnya mengandung zat berberin dan kolumbin. Kandungan alkaloid berberina berguna untuk membunuh bakteri pada luka. Brotowali juga bermanfaat untuk menambah nafsu makan dan menurunkan kadar gula. Zat pahit pikroretin dapat merangsang kerja urat saraf sehingga alat pernapasan bekerja dengan baik dan menggiatkan pertukaran zat sehingga dapat menurunkan panas.

Kegunaan :
Umumnya diminum sebagai tonikum seperti kinine. Di Indo Cina semua bagian tumbuh-tumbuhan dipakai sebagai obat demam sebagai pengganti kinine. Di Filipina Brotowali dianggap sebagai obat serba bisa antara lain dipakai untuk mengobati penyakit gila. Di Bali batangnya dipakai sebagai obat sakit perut, demam dan sakit kuning, bahkan sebagai obat gosok untuk mengobati sakit punggung dan pinggang. Di Jawa air rebusannya digunakan dalam hal demam jujuh, dan sebagai obat luar untuk luka dan gatal-gatal. Pada awal abad ke-20, kulit yang ditumbuk dipakai untuk mengobati sakit gula. Tumbuhan ini juga digunakan sebagai pengatur haid dan obat kencing. Batangnya (sesudah direbus airnya) biasanya digunakan untuk obat sakit perut, demam, sakit pinggang, obat mencret dan obat cacing. Bila dicampur dengan minyak dan belerang maka bisa digunakan sebagai obat luar untuk kudis. Air rebusannya untuk obat borok sifilis. (Pada umumnya daunnya dipakai sebagai obat borok). Batangnya dijual di pasar-pasar dan dikenal dengan nama “batang Brotowali”. Zat pahit dari Brotowali adalah pikroretin; akarnya rnengandung berberin dan kolombin. Pada beberapa penyelidikan dengan kelinci, obat ini ternyata sedikit khasiatnya melawan demam. Obat yang baru, jika ditelan akan menambah rekresi lendir dan ternyata air rebusan memberi ketenangan pada tikus, dengan demikian pemakaiannya bermanfaat dalam menangani penyakit kesadaran (psychosis) dan mungkin pula sakit gila.

Kegunaan lain :
1. Luka, koreng, kudis
2. Gatal-gatal
3. Menambah nafsu makan
4. Malaria
5. Demam
6. Hepatitis
7. Diabetes
8. Rematik

http://www.asiamaya.com/jamu/isi/brotowali_tinosporacrispa.htm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: